PENDIDIKAN YANG MENCIPTAKAN KEJAHATAN


Dunia pendidikan Indonesia kembali menorehkan tinta hitam. Ahmad Budi Cahyono, seorang guru kesenian di SMAN 1 Torjun Sampang meninggal setelah sebelumnya dicekik dan dipukul MH muridnya sendiri (1/2/18). MH memukul karena Budi memoleskan kuas ke wajahnya sebagai balasan perilaku MH mengganggu temannya saat pelajaran melukis.
Dalam perspektif hukum positif, bagaimanapun tindakan MH adalah perbuatan kriminal. Meski secara usia MH masih dikatakan belum dewasa, namun ia jelas melakukan tindakannya dengan sadar.
Kasus ini sebenarnya tidak bisa dilihat secara terpisah dengan kasus lain yang sejenis. Kasus-kasus yang melibatkan kalangan pendidikan sebagai pelaku, memiliki benang merah. Kumpulan kasus ini merupakan fenomena yang perlu diperhatikan serius dalam upaya perbaikan kualitas pendidikan kita.
Mari kita perhatikan beberapa kasus sebelumnya: pertengahan Desember 2017 siswa SMAN 16 Surabaya bunuh diri, tahun 2016 ada siswa di Bogor yang meninggal karena diadu gladiator oleh kawan sekolah dan di tahun yang sama pelajar SMP di Jambi pakai narkoba karena stress menghadapi UN, tahun 2014 kecurangan UN dilakukan sistematis kepala sekolah dan guru di Lamongan, tahun 2013 pelajar di Bandung dicabuli dukun demi lulus ujian. Kasus-kasus itu hanya sebagian kecil saja yang terungkap.
Sangat mudah menangkap hubungan antar kasus ini: tekanan batin. Baik sebagai pelaku maupun korban, mereka sama-sama dipicu oleh tekanan batin. Benar bahwa sebab kejahatan dari faktor biogenik mungkin masih jadi variabel yang mempengaruhi, namun penyebab psikogenik dan sosiogenik juga tidak bisa dipungkiri.
Dalam kasus-kasus tersebut--baik guru maupun siswa--didorong oleh kondisi kejiwaan yang tertekan. Mereka mungkin khawatir atau takut pada "buruknya" hasil belajar yang didapat sehingga mencari pemecahan yang tidak terkontrol. Kondisi psikologis tertekan ini diperparah dengan situasi sosial yang cenderung menilai prestasi belajar dari angka-angka an-sich.
Dalam kasus terbunuhnya guru Budi di Sampang, stigma sebagai "pendekar", cap sebagai siswa bermasalah menggiring MH pada tindakan agresif. Agresivitasnya bisa jadi juga dipicu oleh kecenderungan belajarnya yang kinestetik. Mungkin kecerdasannya di ranah kinestetik, dan lemah di visual atau intra-interpersonal, sehingga memicunya cepat bosan dan otomatis ia mencari interaksi fisik dengan temannya. Ketika interaksi itu tidak berbalas positif, ia akan cenderung mengganggu agar dapat perhatian.
Tulisan ini tidak bermaksud membenarkan tindakan MH karena jelas ia tetap salah, dan tidak pula berpretensi menilai motifnya. Namun bagaimanapun, kasus ini perlu ditelaah untuk menghindari persoalan yang sama berulang.
Jika anda guru, perhatikan bagaimana perilaku siswa anda dalam mengikuti sistem pendidikan konvensional di kelas. Anak-anak yang lemah di ranah matematis-linguistik cenderung tertekan. Anak-anak yang lemah di ranah intra-interpersonal dianggap anak nakal, dan anak-anak kinestetik cenderung dilabeli sebagai pengganggu. Semuanya berangkat dari pola pembelajaran dan evaluasi yang timpang di sekolah konvensional. Hal ini harus benar-benar segera dievaluasi.
Di sisi lain, masyarakat perlu menyadari bahwa orientasi nilai angka bisa menjerumuskan orang pada kecurangan. Prestasi dalam tiap ranah kecerdasan harus difasilitasi dan diapresiasi.
Ini pekerjaan berat bagi kita semua. Tapi kita sadar, bahwa seberat apapun perbaikan harus kita mulai. Jika tidak, maka sebagai pelaku pendidikan sebenarnya kita tidak melakukan kebaikan namun malah melanggengkan kejahatan. Mari bersama berbenah.
*Ahmad Faizin Karimi*
_Founder Sekolah Menulis Inspirasi_
Post a Comment (0)
Previous Post Next Post