Header Ads

test

Proktor dan Pengawas Harus Tanggap Saat Peserta Seleksi PPPK Cemas/Gugup

 

Mujiarto (dok. pribadi/IGI Jatim)

Seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK)  tanggal 13--17 September 2021 sudah dilalui. Seleksi ini diprioritaskan untuk seluruh guru honorer, baik di sekolah negeri maupun swasta yang terdaftar di Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Berdasarkan Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), PPPK dikontrak minimal satu tahun dan dapat diperpanjang paling lama 30 tahun. Pemerintah juga akan menyediakan materi pembelajaran secara daring bisa dibuka di simpkb.id menggunakan akun masing-masing guru. 

Hal ini diberikan untuk membantu pendaftar mempersiapkan diri sebelum ujian seleksi.  Apakah peserta seleksi PPPK ini sudah siap? Baca pengalaman saya ini saat bertugas menjadi proktor dan sudah saya diskusikan dengan rekan yang menjadi pengawas saat itu.

Semangat peserta seleksi guru ASN PPPK di Lumajang. (Mujiarto/IGI Jatim)

Hari pertama melihat semangat peserta seleksi guru ASN PPPK 2021, kami (proktor dan pengawas) bangga dan terharu. Saat peserta memasukkan  username, aman, seluruh peserta bisa, tetapi beda halnya saat memasukkan password, mulai muncul pertanyaan, "Kok saya tidak bisa login, ya, Pak/Bu?"

Ternyata kesulitannya memasukkan karakter bintang (*). Ada juga yang tidak bisa menggunakan mouse, tombol bagian tengah mouse ditekan sehingga tampilan kalimat pada layar monitor bergerak. Ada yang terlihat jarinya bergetar saat memegang mouse (hal ini terjadi karena peserta cemas yang berlebihan disebabkan baru pertama kali ikut seleksi ini). Kejadian di atas wajar terjadi karena peserta seleksi kali ini beragam tahun kelahirannya,  ada yang kelahiran 1965, wau …(empat tahun lagi beliaunya pensiun)  dan sangat dimungkinkan ada yang lebih tua lagi. 

Ada dorongan dalam hati supaya bisa membantu mereka yang sedang cemas ini. Lalu saya katakan, “Bapak/Ibu, jangan cemas. Kalau ada kendala teknis, ada kami berdua yang siap membantu Bapak/Ibu supaya Anda bisa mengerjakan soal seleksi ini dengan baik.” Hal ini terjadi di sesi 1 dan sesi 2.

Agar kecemasan yang terjadi di hari pertama tidak terulang, maka awal kegiatan seleksi hari kedua kami pandu berdoa bersama, “Untuk memaksimalkan ikhtiar Bapak/Ibu  menjadi Guru ASN PPPK, mari kita awali dengan berdoa, semoga Allah Swt. melancarkan dan memberi kemudahan pada Bapak/Ibu semua dan mendapatkan hasil yang memuaskan. Berdoa, mulai ... selesai. Bagi Bapak/Ibu yang baru memegang model mouse yang ada di meja, sekarang arahkan kursor mouse ini dan klik bagian kiri. Bapak/Ibu akan mendapatkan tiga paket soal. Setiap paket silakan diakhiri dengan klik kata selesai, ada jeda 60 detik sebelum menuju paket berikutnya. Itu saja info dari kami, semoga sukses semua. Jangan cemas, kami ada di sini, siap membantu kendala teknis yang Bapak/Ibu alami. Acungkan tangan saja, nanti kami datang membantu jenengan."

Kendala yang  dijumpai saat mengamati kegiatan seleksi Guru ASN PPPK 2021:

  1. Kendala teknis

a.    Peserta bingung menggunakan mouse.

b.    Peserta tidak bisa menggunakan tanda bintang (*) di keyboard sehingga peserta tidak bisa login.

Kendala teknis ini terselesaikan dengan bertanya pada proktor dan pengawas ruang.

  1. Psikis (gugup/cemas)

Munculnya cemas pada peserta disebabkan:

a.    Baru pertama kali mengikuti seleksi.

b.    Datang terlambat di tempat ujian.

c.    Belum sarapan atau makan siang saat mengikuti seleksi.

  1. Fisik (penglihatan dan pernapasan)

Bagi peserta yang kelahiran 1965 atau sebelum tahun ini, mengerjakan tiga paket soal ini adalah hal yang sangat berat, penglihatan peserta capek, dan membuat perut mual. Ditambah dengan aturan menggunakan masker rangkap, membuat peserta sulit bernapas. 

  1. Mapel ujian tidak sesuai dengan bidang studi yang diajarkan.

Formasi yang diikuti peserta tidak sesuai dengan bidang mata pelajarannya, sehingga peserta meraba-raba materi ujiannya.

Berapakah skor yang didapat peserta di paket tiga? Khusus peserta dari tingkat SD, skor yang didapat 200--350 Guru Kelas (Tematik), tetapi tidak pada PJOK. Peserta SMP skor berkisar 176--275, sedangkan peserta SMA atau SMK 155--245. 

Apa yang perlu dilakukan pemerintah setelah tahu skor peserta seleksi ini? Anggap saja skor adalah modal yang dimiliki oleh guru yang ikut seleksi ini. Bagi peserta yang tidak  memenuhi passing grade maka perlu diadakan pelatihan sesuai dengan materi yang diujikan. Pemerintah bisa menunjuk MGMP Mapel yang ada di kabupaten masing masing peserta, dengan materi yang sudah dibuat pemerintah pada simpkb.id. Kalau hal ini tidak dilakukan, di seleksi berapa kalipun Guru Honorer pasti tidak akan lolos dan pupus harapan mereka menjadi Guru ASN PPPK.

Mujiarto
Ketua Daerah IGI Kab. Lumajang

No comments