Sambutan Anis Matta Wakil Menteri Luar Negeri RI di Pembukaan MUNAS IGI 2026
https://www.youtube.com/watch?v=SUbkuC_c0K4
Berikut sambutan dari Pak Anis Matta (Wakil Menteri Luar Negri RI) :
Tadinya saya tidak mengerti apa hubungannya Kemenlu dengan IGI. Namun, kemarin Pak Danang dan kawan-kawan menjelaskan bahwa ini adalah momentum di mana para guru membutuhkan pencerahan, terutama dalam tema geopolitik. Hal ini penting untuk memahami perubahan-perubahan besar yang sekarang sedang terjadi.
Jadi, sekarang saya bisa memahami apa yang disampaikan oleh Pak Darma tadi. Orang-orang yang tergabung di IGI ini memang sosok yang sangat mencintai profesinya. Di antara semua profesi, menurut saya dan menurut Islam, ini adalah profesi yang paling mulia.
Karena menjadi guru itu adalah profesi para nabi. Semua nabi diutus ke dunia untuk menjadi pengajar kebajikan kepada umat manusia.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda bahwa sesungguhnya Allah, para malaikat, dan seluruh penduduk langit serta bumi berselawat kepada guru. Bahkan, semut dalam lubangnya dan ikan paus di dasar lautan turut mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan.
Hadis ini cukuplah menjadi penghormatan bagi kita para guru, yang seharusnya melebihi penghormatan dari negara. Tidak heran jika di dalam Al-Qur'an, kata "ilmu" terulang lebih dari 750 kali untuk menunjukkan betapa pentingnya hal tersebut dalam kehidupan.
Bahkan nubuwah atau kenabian tidak diwariskan kepada para khalifah, raja, atau presiden, melainkan diwariskan kepada para ulama. Saya sengaja memulai dengan ini untuk memperkuat kecintaan Saudara sekalian kepada profesi yang sedang digeluti saat ini.
Walaupun begitu, saya masih percaya bahwa profesi ini masih sangat terzalimi di Indonesia dari segi kesejahteraan, dan ini perlu jadi kajian Pak Ace di Lemhannas. Sejak dua periode di DPR, saya terus memperjuangkan agar 20% APBN kita dialokasikan untuk pendidikan.
Pada kesempatan ini, saya ingin sedikit bercerita saat dulu bersekolah di Pesantren Muhammadiyah Darul Arqam Gombara, Makassar. Sekolah ini letaknya di hutan yang jauh dari kota, dan guru-gurunya saat itu hampir tidak dibayar.
Meski demikian, saya mendapatkan banyak inspirasi dari guru-guru hebat yang mengajar saya waktu itu. Salah satunya adalah guru Bahasa Indonesia saya, seorang jurnalis yang melatih saya menulis, termasuk menulis puisi.
Waktu kelas 2 SMP, saya pernah patah hati karena cinta monyet, lalu saya menulis puisi untuk mengubah musibah menjadi karya. Puisi itu diedit oleh guru saya dan akhirnya terbit di Harian Fajar Makassar.
Sejak saat itu, saya sangat mencintai Bahasa Indonesia dan selalu mendapat nilai 100 hingga SMA. Sekarang di Kemenlu, saya akan memulai gerakan penerjemahan karya sastra Indonesia, seperti novel Pujangga Baru, ke dalam bahasa-bahasa dunia Islam.
Ini adalah bagian dari roadmap Kemenlu untuk mengintegrasikan Indonesia dengan dunia Islam. Kita memiliki kesamaan identitas dan sejarah yang kuat dengan mereka.
Sampai sekarang, setiap kali salat, saya selalu mendoakan daftar nama guru-guru saya dari kecil hingga kuliah. Saya memiliki daftar nama pribadi mereka yang pernah mengajar saya secara langsung.
Saya mendoakan mereka baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Pekerjaan Saudara ini sebenarnya adalah pekerjaan di mana setiap hari Saudara menanamkan amal jariah.
Saudara sekalian perlu memahami profesi ini dalam skala yang lebih besar. Profesi guru berhubungan langsung dengan proses social engineering atau perekayasaan sosial yang jarang disadari oleh kaum elit.
Persoalan besar negara berkembang yang sulit melakukan lompatan besar adalah ketiadaan arsitek sosial. Ciri negara yang kekurangan arsitek sosial terlihat dari minimnya penghargaan mereka terhadap ilmu-ilmu sosial.
Tadi pendiri kita menyebut perbedaan antara IGI dengan partai politik, namun saya juga belajar banyak di sini. Kebetulan saya ketua umum partai politik, dan Pak Ace juga dari Golkar, jadi hari ini kita sharing.
Di partai saya, ada gabungan sekolah binaan bernama Share Edu dengan total murid lebih dari seratus ribu. Ini menunjukkan bahwa proses perekayasaan sosial tidak bisa dilepaskan dari profesi guru.
Anda mungkin tidak menyadari bahwa pekerjaan inti Saudara adalah social creation atau proses penciptaan masyarakat. Nah, sekarang kita menghadapi tiga tantangan besar yang akan menjadi fenomena sehari-hari di tahun-tahun mendatang.
Ancaman pertama adalah perang akibat konflik supremasi antara kekuatan-kekuatan besar (great power). Awal tahun 2026 ini diawali dengan peristiwa mengejutkan penculikan seorang presiden oleh presiden negara lain.
Setelah itu, Amerika mengumumkan keluar dari sekitar 66 organisasi multilateral, baik di bawah PBB maupun non-PBB. Artinya, kita sedang meninggalkan tatanan lama berbasis aturan menuju tatanan baru tanpa institusi multilateral.
Negara-negara besar kini berpindah dari soft power ke hard power. Bahkan, Wakil Presiden Amerika baru-baru ini menyatakan bahwa kita semakin dekat dengan perang dunia ketiga.
Ancaman kedua adalah revolusi sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dalam dua tahun terakhir, banyak rezim berganti akibat revolusi sosial di Asia Selatan, Eropa, Afrika, hingga Timur Tengah.
Fenomena ketiga yang akan terus kita saksikan adalah krisis ekonomi berkelanjutan. Krisis ini merupakan output dari konflik geopolitik yang sedang terjadi saat ini.
Hal tersebut memiliki dampak sosial yang serius, yaitu rusaknya public mood dalam masyarakat kita. Suasana kebatinan masyarakat menjadi rusak secara menyeluruh.
Ketika public mood dipenuhi kemarahan atau ketakutan, kondisi ini bisa berkembang menjadi agresi. Jika sudah menjadi agresi, orang-orang akan sangat mudah untuk dimobilisasi.
Anda semua mengajar saat Indonesia sedang menghadapi perubahan demografi substansial dengan populasi anak muda yang besar. Pada tahun 2029, pemilih muda diperkirakan akan berjumlah sekitar 57%.
Anak-anak muda ini adalah native democracy dan native IT yang terkoneksi secara global. Mood mereka tidak hanya dipengaruhi oleh perbincangan domestik, tetapi juga oleh percakapan global.
Perusahaan teknologi besar dapat merekayasa mood orang di seluruh dunia tanpa kita sadari. Hal ini bisa menggiring mobilisasi online yang kemudian berubah menjadi gerakan offline.
Jadi, Saudara sekalian, tantangan besar ini membutuhkan kreativitas yang lebih tinggi dalam menjalankan profesi guru. Inilah ironinya; tantangannya sangat besar, namun reward-nya masih kecil sekali.
Namun, di situlah seni mencintai profesi ini. Saya ingin mengingatkan bahwa inti pekerjaan Saudara adalah menjadi arsitek sosial yang menciptakan masyarakat. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
