Sambutan Pembukaan Munas IGI 2026
Oleh Pendiri IGI : Drs. Satria Darma
Berikut apa yang disampaikan beliau:
https://www.youtube.com/watch?v=gSXlQ69zCqQ
Hadir di acara Munas IGI ini ya. Saya sengaja pakai ee baju IGI juga sama dengan Bapak dan Ibu. Kenapa? Supaya pendiri IGI lainnya iri dengan saya. Kok saya punya baju ini sedangkan mereka pasti tidak punya? Saya yakin enggak punya. Ya, Bapak dan Ibu sekalian ee saya perlu sampaikan kenapa saya bangga? Karena saya yakin bahwa Bapak dan Ibu semua adalah guru yang luar biasa ya. Setiap kali saya bertemu dengan guru IGI, saya selalu melihat luar biasa guru-guru IGI ini. Ya, saya bukan mau basa-basi tapi saya memang selalu kagum pada para guru ini.
Guru IGI ini ada di 39 provinsi ya. Ada yang tanya kok bisa 39 provinsi? Padahal provinsi Indonesia hanya 38 ya. Ya. Di seluruh provinsi Indonesia ada IGI dan ada satu di luar negeri. Nah, anggap aja itu provinsi baru ya. Jadi kita ada di 39 provinsi gitu ya. Ee di seluruh Papua ada guru ya. Di seluruh Papua ya. Meskipun di Papua Tengah itu hanya ada lima orang Papua Tengah ya. Ya, namanya juga provinsi baru ya.
Saya perlu sampaikan kepada Bapak dan Ibu sekalian bahwa menjadi guru IGI itu tidak mudah ya. Kalau saya katakan tidak mudah, pasti yang lama-lama itu tahu apa kesulitan untuk menjadi guru IGI dulu ya. Ah ya. Menjadi guru IGI dulu ya itu banyak sekali tantangan, hambatan, dan perjuangan untuk menjadi anggota ya karena ada banyak yang gak suka ya itu bilang ya gitu. Jadi dulu itu seolah menjadi anggota IGI itu adalah sebuah ee apa namanya? Ah ya nanti ngomong sendiri. Ee Bapak Mas Ari, Mas Ari ada buku yang bisa dibagikan kepada ya dibagikan ya di banyak provinsi dan kota sampai saat ini masih ada saja tekanan, ancaman, intimidasi bagi guru yang mau masuk IGI. Tapi buktinya sampai sekarang kita ada di tiga puluhan provinsi. Luar biasa itu ya. Ee ada buku-buku yang bisa saya bagikan untuk membaca. Kenapa saya katakan bahwa untuk menjadi guru itu tidak mudah? Ya, itu untuk para tamu ya. Para tamu ya, bukan untuk guru IGI ya. Ya, para tamu ya. Bukunya itu. Itu kan cerita Anda sendiri. Untuk apa bagi Anda buku tersebut? Itu cerita Anda ya. Itu untuk para tamu kita ya.
Jadi untuk menjadi guru IGI saja itu susah dan berat. Tapi mereka yang ada di hadapan kita ini adalah guru yang percaya ya. Bahwa jika Indonesia ingin memiliki mutu pendidikan yang hebat maka gurunya juga harus hebat. Ya, ini dan para guru agar bisa hebat maka mereka harus menempa diri mereka terus-menerus ya dengan berbagai pelatihan dan pembelajaran yang terbaru dengan sesama pendidik lainnya. Jadi tidak mungkin sendiri. Dan untuk bisa menjadi guru yang hebat maka masuk IGI adalah caranya ya. Ah, ini saya bukan mau apa namanya ya, mau bukan mau sombong bukan saya yang tapi Bapak dan Ibu kalau setiap ada lomba ya, lomba di kementerian atau di mana saja selalu tuh yang juara tuh orang IGI ya. Mungkin saya dikira promosi enggak memang begitu faktanya ya. Faktanya memang kalau ada kejuaraan-kejuaraan selalu orang-orang IGI ya. Saya baru belakangan dikasih tahu, "Oh, itu orang IGI, Pak. Oh, itu orang IGI, Pak." Oh iya, kayak gitu ya. Ah, jadi Bapak dan Ibu datang untuk ke sini saja itu perjuangan berat loh Bapak dan Ibu ya. Ini yang datang dari Aceh sampai Papua ya. Ah, saya dulu masih waktu jadi ketua umum keliling itu ke Aceh itu saya masih ingat almarhum Pak Imran ya. Saya diajak keliling untuk mempromosikan IGI itu ya. Saya bahkan kalau di Aceh itu yang nyetir itu pelan-pelan saya bilang, "Aduh, kenapa lambat sekali ini? Boleh enggak saya pinjam? Saya yang nyetir." Saya bilang begitu ya. Oke, Pak. Nah, begitu saya setir, "Weh, mereka kaget saya kencang benar sudah." Nah, tapi ee itu perjuangan dulu waktu di Aceh. Sekarang luar biasa Aceh itu. Ya, Bapak dan Ibu, mereka yang datang itu ke sini itu pakai biaya sendiri ya.
Saya mau tanya ya sekarang terus terang saja ya. Ada yang kasih sponsor enggak di belakangnya? Enggak ada ya? Atau dapat sangu dari kepala dinas? Enggak ada. Jangan-jangan ada cukong di belakang. Oh, enggak ada ya. Jangankan cukong ya. Jadi Bapak dan Ibu di IGI itu tidak ada pungutan biaya bulanan. Mungkin ada yang bertanya, "Berapa sih apa namanya iurannya untuk masuk IGI itu kok bisa datang di IGI itu tidak ada iuran bulanan, Bapak dan Ibu ya. Dulu waktu saya mendirikan IGI dan saya bilang tidak ada iuran ya." Oh, semua itu mengejek saya. Mana ada organisasi kok enggak ada iurannya. Ya, saya bilang dalam hati saya enggak jawab ya. Lah wong itu sudah kita kerjakan kok. Anda mau membantah bagaimana? Faktanya kita sudah berjalan tanpa iuran ya. Dan sampai sekarang menurut saya apa benar ya belum ada bayaran iuran enggak ada. Oke bagus ya. Jadi IGI itu kalau mau mengadakan kegiatan itu mencari biaya sendiri tidak ada protes. Umpamanya kok tiap bulan gaji kita dipotong tapi tidak ada kegiatan. Seperti saya tidak menyindir organisasi profesi lain, tidak ya. Tapi kalau ada yang tersindir ya maaf ya. Ya. Saya saya itu kadang-kadang berpikir begini, seandainya ya partai politik itu anggotanya seperti anggota IGI, maka kehidupan politis kita pasti akan sangat jauh berbeda. Ya. Di IGI tidak ada orang yang berpikir untuk kepentingan dirinya sendiri ya. Justru mereka memberi ya itu makanya slogannya adalah sharing and growing together. Ya, jadi mereka share ya bukan getting tapi sharing ya. Iya.
Eh, kalau di parpol kita mungkin tahu bahwa selalu ada pemodal besar, ada pejabat tinggi, ada jenderal ya, ada Hary Tanoe di Perindo ya, selalu ada naga dan singa di belakang partai, tapi di IGI hanya ada ya kami inilah ya. Kalau mau menganggap Pak Indra dan Pak Bagiono sebagai apa namanya? Sebagai naga ya monggo ya. Merekalah naga-naga kita di sini ya. Ya, kalau Pak Nanang itu dia adalah flying fox-nya ya, rasi terbang ya Bapak dan Ibu. Dalam Munas ini nanti akan ada pemilihan ee ketua ya. Ee kalau setahu saya kira-kira ada empat calonnya tapi sampai sekarang itu belum ada yang kasak-kusuk ya atau mencoba untuk mencari dukungan di IGI enggak ada kayak gitu. Itu ya. Jadi ee semua mengalir begitu saja. Enggak ada yang enggak ada amplop yang berarti tahu juga ya. Ya. Ya. Kalau umpamanya ada permainan uang mestinya saya dapat ya kan. Wah paling gak kan ada pengaruhlah saya sedikit ya. Tapi kalau saya dapat Pak Nanang pasti minta juga itu lah. Iya. Bagaimana mungkin mereka akan memberikan kepada yang lainnya uang? Mereka datang sini aja setengah mati ya. Jadi enggak mungkin ada permainan uang dan juga tidak ada kasak-kusuk loh ya. Itu hebatnya IGI. Tidak ada blok-blokan ya. Saya ikuti loh walaupun e kelihatannya saya ikuti loh. Oh di IGI di mana-mana tidak ada. Eh saya eh saya enggak ada ya. Ini luar biasa. Bayangin kalau umpamanya partai politik seperti itu, wow luar biasa ya, hanya yang terbaik yang akan terpilih ya.
Ee Bapak dan Ibu, kalau dulu gini kita biasanya ada ee ide melakukan sesuatu umpamanya ya dan ide kita itu memang luar biasa. Umpamanya satu guru satu buku. Bayangin loh, Pak. Dulu itu kalau umpamanya kita bilang bahwa guru tuh diminta untuk menulis buku, ah mana ada guru menulis buku ya. Pejabat aja enggak ya. Kalau Pak Anis Matta penulislah. Saya tahu itu ya. Heeh. Pak Aceh juga penulis. Tapi guru setelah kita dorong untuk menulis, kita temani ada dua namanya ada Sagusaku, satu guru satu buku, dan ada juga satu Sagusabu ya dua lembaga. Dari itu akhirnya terjadi ribuan guru bisa menulis. Luar biasa ya. Baru menulis itu ya sudah begitu ya. Nah, mungkin ada yang bertanya dari mana IGI mendapatkan dana untuk semua kegiatannya? Ya saya jawabnya ya Allah will provide. Begitu aja saya bilang gitu ya. Ee saya perlu sampaikan bahwa jumlah guru di Indonesia itu ada 3,47 juta orang. Pada periode ini ada sebanyak 4.675 guru resmi bergabung. Jadi baru bergabung ya. Sehingga guru IGI itu sekitar 200-an ya 200-an ribu ya. Sehingga sebetulnya hanya 5% dari jumlah seluruh guru di Indonesia ya. Tetapi 5% itu adalah yang terbaik ya. Ee the best 5% of teachers in Indonesia. Wah itu luar biasa itu ya. Heeh. Kalau umpamanya sebetulnya bisa buka aja website-nya IGI lihat apa saja kegiatannya. Saya berani jamin organisasi lain tidak bisa menyaingi IGI ya. Bukan saya promosi ya, tapi memang begitu faktanya ya.
Bapak dan Ibu sekalian, para anggota Munas, Anda semua adalah guru-guru yang merdeka. Ya, bukan hanya dalam berpikir tapi juga dalam bertindak. Anda semua tidak mau menjadi guru yang hanya disetir ke sana kemari ya. Tidak mau ya. Apalagi yang bukan guru ya. Saya enggak ya enggak nyindir ya. Anda semua percaya diri bahwa Anda bisa mengatur diri sendiri tanpa harus ada pejabat dalam struktur pengurus organisasi Anda. Ya. Nah, saya yakin itu sampai sekarang enggak ada ya di belakangnya ada siapa begitu ya. Enggak ada ya. Anda semua bergerak dengan angan-angan dan keinginan untuk membuat perubahan yang berarti dalam pendidikan di Indonesia dan Anda yakin bahwa Anda mampu bergerak dengan mandiri. Ya, ini luar biasa. Ya, saya hendak menyampaikan bahwa Anda semua adalah orang yang berprofesi guru yang hebat. Anda tidak puas dengan apa yang ada dan yang terjadi dan Anda bertekad untuk mengubah dan menjadikannya jauh lebih baik dengan bersatu di IGI. Ya, dengan berada di IGI, Anda memiliki modal yang besar untuk melakukan perubahan besar bagi bangsa dan negara.
Ya. Ee saya pesan begini ee setelah melihat perkembangan ini, saya berpesan jangan lagi membatasi pikiran dan tindakan Anda. Ya, kadang-kadang kita membatasi pikiran dan tindakan kita sendiri. Jadi, expand your horizon ya, expand your imagination. Imagination is more powerful than knowledge. Itu yang ngomong Einstein ya. Jadi eh imajinasi itu lebih powerful daripada knowledge ya. Nah, kalau beri contoh saya kasih contoh ya. Pernah dengar Gernas Tastaka? Sudah tahu ya. Itulah dia orangnya ya orang Tastaka ya. Ini Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika ya. Nah ini diinisiasi oleh Pak Nanang, Pak Ahmad Rizali ya. Nah, kok bisa ya pembelajaran matematika secara nasional dan kini diadopsi dan disponsori oleh banyak pihak kok malah diinisiasi oleh non-guru. Pak Ahmad Rizali itu UI itu ya bukan dari IKIP. Yang IKIP cuman saya sama Pak Habib itu ya. Ah kalau ya Pak ini dari ITB ya dua-dua ini ITB ya. Nah kenapa Pak Ahmad Rizali bisa menggagas itu? Karena dia tidak apa ee mengerangkeng pikirannya. Dia yakin bisa lakukan. Lakukan ya. Anda juga sama ya. Hanya karena selama ini Anda berpikir saya itu hanya guru, hanya di kelas, maka itu mengerangkeng. Kalau Anda membuka pemikiran Anda, maka Anda bisa melakukan jauh lebih besar. Contohnya ya gerakan literasi sekolah ya yang dulu kita inisiasi ya. Gerakan literasi sekolah itu nasional akhirnya. Dan yang melakukan adalah kita ya guru-guru. Nah, artinya kalau kita mau melakukan banyak hal itu bisa. Umpamanya saya dulu mendorong satu sekolah, ayo setiap ee satu sekolah ini harus bisa membaca 1000 buku. Orang bertanya, "Wow, membaca 1000 buku lah." Yang siswanya aja 1000 berarti satu buku kan cukup. Cara berpikir begitu kan jarang orang yang berpikir demikian, ya. Nah, ee buktinya guru-guru 1000 buku ada banyak bisa menulis ya. Nah, saya berharap nanti pikirkan ide-ide baru dalam pendidikan. Umpamanya menanam 1000, 10.000 pohon di sekolah ya. Nah, ee pelopor kebersihan lingkungan membentuk siswa berkarakter dan lain-lain. Ada banyak ide yang bisa kita laksanakan ya sebagai guru IGI.
Nah, ee terakhir saya ingin berpesan pada semua pengurus dan anggota IGI, milikilah kartu nama. Ya, ada yang belum punya kartu nama enggak? Pulang ini harus punya kartu nama. Murah aja kok itu Rp30.000 ya. Tapi kalau Anda punya kartu nama itu lain. Anda menjadi profesional ya. Begitu ketemu orang, ketemu Pak Aceh, ketemu Pak Anis Matta, langsung kasih kartu nama. Saya ini, Pak, dari IGI. Uh, IGI ya. Luar biasa ya. Nah, dengan demikian Anda bisa sampaikan, "Pak, saya dari IGI. Kalau nanti Bapak kira-kira butuh sesuatu, saya bisa membantu." Bayangkan ya. Anda menawarkan diri untuk membantu ya. Ya, kalau umpamanya diminta sesuatu yang Anda tidak bisa, oke Pak, nanti saya carikan teman yang bisa. Kan begitu caranya ya. Tapi Anda sudah memperluas horizon Anda. Anda memperluas pergaulan Anda. Dan bukan hanya di sekitar dunia pendidikan. Ada banyak hal besar yang mungkin bisa Anda lakukan selain mengajar di kelas. Sekian, terima kasih. Asalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
