SURABAYA- Pendampingan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dilaksanakan di SDN Ngagelrejo 1 Surabaya sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas sekolah dalam membangun budaya aman, tangguh, dan siap menghadapi berbagai potensi bencana. Kegiatan ini menghadirkan fasilitator SPAB dari Kabupaten Pamekasan, Daman Sa'id dan Eva Yusnita, serta narasumber dari BPBD Kota Surabaya, Ludy Ferdian. Sebanyak 15 peserta yang berasal dari berbagai satuan pendidikan di Kota Surabaya mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias dan partisipasi yang tinggi.
Kegiatan dimulai pada pukul 08.00 WIB dan dibuka secara resmi oleh perwakilan Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Dalam sambutannya disampaikan bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga harus menjadi ruang yang aman bagi seluruh warga sekolah melalui penerapan budaya kesiapsiagaan bencana yang terencana, kolaboratif, dan berkelanjutan.
Memasuki sesi inti, fasilitator Daman Sa'id dan Eva Yusnita menyampaikan materi mengenai Manajemen Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) serta Integrasi Pendidikan Kebencanaan dan Perubahan Iklim dalam Ekosistem Sekolah. Materi diawali dengan pengenalan konsep dasar SPAB sebagai pendekatan komprehensif yang mencakup tiga pilar utama, yaitu fasilitas sekolah yang aman, manajemen bencana di satuan pendidikan, serta pendidikan pencegahan dan pengurangan risiko bencana. Fasilitator menekankan bahwa keberhasilan SPAB tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen administrasi, tetapi juga oleh komitmen seluruh warga sekolah dalam membangun budaya sadar bencana.
Baca juga : https://jawatimur.igi.or.id/2026/07/serentak-bergerak-se-jawa-timur-program.html
Pembahasan kemudian diarahkan pada strategi mengintegrasikan pendidikan kebencanaan dan perubahan iklim ke dalam seluruh ekosistem sekolah melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler. Peserta diberikan berbagai contoh implementasi pada mata pelajaran, proyek pembelajaran, pembiasaan sekolah, hingga kegiatan ekstrakurikuler yang mampu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Sebagai tindak lanjut dari materi tersebut, peserta bekerja secara berkelompok menyusun rancangan implementasi integrasi pendidikan kebencanaan ke dalam kegiatan intrakurikuler dan kokurikuler sesuai karakteristik sekolah masing-masing. Setiap kelompok mendiskusikan ide, menyusun langkah implementasi, kemudian mempresentasikan hasilnya untuk memperoleh masukan dari fasilitator maupun peserta lainnya. Diskusi berlangsung aktif, komunikatif, dan penuh semangat karena setiap peserta saling berbagi praktik baik yang telah dilakukan di sekolahnya.
Dalam sesi penguatan, fasilitator menegaskan bahwa hasil implementasi yang telah disusun tidak berhenti sebagai tugas selama pelatihan, tetapi harus menjadi bagian dari dokumen perencanaan sekolah. Seluruh peserta diharapkan mengintegrasikan implementasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) ke dalam Kurikulum Satuan Pendidikan (KSP) masing-masing. Integrasi tersebut mencakup perencanaan pembelajaran, program kokurikuler, pembiasaan sekolah, serta berbagai kegiatan pendukung lainnya sehingga pendidikan kebencanaan dan adaptasi terhadap perubahan iklim benar-benar menjadi bagian yang utuh dalam penyelenggaraan pendidikan. Dengan demikian, SPAB tidak lagi dipandang sebagai program tambahan, melainkan menjadi budaya sekolah yang dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan.
Materi berikutnya membahas Tata Ruang Aman Sekolah, yang meliputi identifikasi potensi bahaya di lingkungan sekolah, penataan ruang yang aman, penyusunan jalur evakuasi, pemasangan rambu-rambu evakuasi, penyusunan Prosedur Tetap (Protap) saat terjadi keadaan darurat, serta strategi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) bagi seluruh warga sekolah. Peserta diajak memahami bahwa kesiapsiagaan tidak hanya dibangun melalui pengetahuan, tetapi juga melalui lingkungan fisik yang dirancang untuk memberikan perlindungan dan keselamatan bagi seluruh warga sekolah.
Baca juga : https://jawatimur.igi.or.id/2026/07/semarak-pendampingan-satuan-pendidikan.html
Sesi berikutnya disampaikan oleh Ludy Ferdian dari BPBD Kota Surabaya mengenai Simulasi Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). Sebelum praktik simulasi dimulai, narasumber menjelaskan sistem kesiapsiagaan bencana yang telah diterapkan di Kota Surabaya. Salah satu bentuk komitmen tersebut adalah adanya Surat Keputusan (SK) Kesiapsiagaan Bencana sebagai dasar pembentukan organisasi penanggulangan bencana di sekolah.
Peserta juga diperkenalkan dengan layanan Call Center 112 Kota Surabaya, yaitu layanan kegawatdaruratan yang dapat diakses masyarakat selama 24 jam tanpa dipungut biaya. Layanan ini dapat dimanfaatkan ketika terjadi kebakaran, kecelakaan lalu lintas, orang tidak sadar atau pingsan, gangguan pernapasan berat, nyeri dada yang mengarah pada kondisi gawat darurat, bangunan roboh atau terancam roboh, banjir lokal, pohon tumbang, maupun berbagai kejadian lain yang mengancam keselamatan masyarakat dan membutuhkan penanganan segera. Penjelasan ini memberikan wawasan kepada peserta bahwa sistem kesiapsiagaan sekolah harus terhubung dengan sistem penanggulangan bencana daerah agar penanganan keadaan darurat dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi.
Puncak kegiatan adalah pelaksanaan simulasi SPAB yang menjadi sesi paling menarik sekaligus paling berkesan bagi seluruh peserta. Simulasi dilaksanakan secara nyata dengan pembagian peran sesuai struktur organisasi SPAB. Para peserta berperan sebagai Kepala Sekolah, guru, peserta didik, Tim Evakuasi, Tim Pertolongan Pertama/Medis, Tim Keamanan, Tim Informasi dan Komunikasi, serta berbagai tim pendukung lainnya.
Saat skenario
bencana dimulai, seluruh
peserta menjalankan tugasnya
sesuai prosedur yang telah
dipelajari. Alarm keadaan
darurat menjadi tanda dimulainya proses evakuasi. Guru mengarahkan
peserta didik menuju titik kumpul
melalui jalur evakuasi
yang telah ditetapkan, Tim Evakuasi
memastikan seluruh ruangan
telah kosong, Tim Medis memberikan pertolongan pertama kepada korban simulasi, sedangkan Tim Informasi dan Komunikasi melakukan
pelaporan kondisi kepada kepala sekolah dan pihak terkait. Seluruh tahapan simulasi berlangsung secara sistematis, tertib, dan
menunjukkan pentingnya
koordinasi serta komunikasi yang efektif dalam menghadapi situasi darurat.
Suasana simulasi terasa sangat hidup karena seluruh peserta benar-benar menghayati peran masing-masing. Tidak ada peserta yang hanya menjadi pengamat; semua terlibat aktif sehingga latihan berlangsung menyerupai kondisi nyata. Pengalaman tersebut memberikan pembelajaran yang mendalam bahwa keberhasilan penanganan bencana di sekolah tidak hanya bergantung pada tersedianya sarana dan prasarana, tetapi juga pada kesiapan sumber daya manusia, kepemimpinan, koordinasi antartim, komunikasi yang efektif, serta latihan yang dilakukan secara rutin.
Menjelang akhir kegiatan, fasilitator memimpin sesi refleksi bersama. Peserta menyampaikan pengalaman, pembelajaran, serta rencana tindak lanjut yang akan diterapkan di sekolah masing-masing. Refleksi tersebut menunjukkan meningkatnya pemahaman peserta mengenai pentingnya membangun budaya sadar bencana yang tidak berhenti pada penyusunan dokumen, tetapi diwujudkan melalui implementasi nyata dalam seluruh aktivitas sekolah.
Kegiatan berakhir pada pukul 16.30 WIB dengan closing statement yang disampaikan oleh fasilitator Daman Sa'id dan Eva Yusnita. Dalam penutupan tersebut ditegaskan bahwa Satuan Pendidikan Aman Bencana bukan sekadar sebuah program, melainkan sebuah budaya yang harus ditanamkan, dipraktikkan, dan diwariskan kepada
seluruh warga sekolah. Melalui kolaborasi antara sekolah,
pemerintah daerah, BPBD,
dan seluruh pemangku
kepentingan, diharapkan setiap peserta mampu menjadi agen perubahan yang menggerakkan lahirnya satuan pendidikan yang aman,
tangguh, adaptif
terhadap perubahan iklim, serta siap melindungi seluruh warga sekolah dari berbagai
risiko bencana. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar,
interaktif, kolaboratif, dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna
bagi setiap peserta. (Eva Yusnita/IF)
